JAKARTA - Pergerakan nilai jual logam mulia berupa emas terpantau masih terus menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam sepanjang tahun ini. Setelah sempat meroket ke level tertinggi, saat ini nilai transaksi emas kembali mengalami fase penurunan atau terkoreksi di pasar.
Kendati demikian, situasi penurunan tersebut dinilai tidak merusak proyeksi keuntungan jangka panjang dari komoditas kilau ini. Kejatuhan harga sementara ini malah dipandang menjadi momentum emas bagi para penanam modal untuk melakukan aksi kumpul aset sebagai instrumen memecah risiko portofolio.
Kepala Riset Komoditas dan Makroekonomi WisdomTree Nitesh Shah memaparkan bahwa penyusutan nilai emas belakangan ini dominan dipicu oleh aksi penarikan laba serta desakan pemenuhan likuiditas dana investor kala pasar bergejolak, bukan akibat keroposnya marwah emas selaku aset aman.
"Ketika harga turun sebanyak ini, ini adalah waktu yang tepat untuk membeli, terutama jika Anda mempertimbangkan untuk membeli pada bulan-bulan sebelumnya," kata Shah, dilansir Money Week, Sabtu (18/7/2026).
Pada sudut pandang berbeda, Direktur Riset BullionVault Adrian Ash menilai para pelaku pasar sekarang cenderung lebih fokus menyoroti arah kebijakan finansial Amerika Serikat ketimbang isu ketegangan politik antarnegara.
Berdasarkan hasil jajak pendapat dari BullionVault, didapati sebanyak 28 persen koresponden menganggap ketetapan tingkat bunga acuan bakal menjadi motor penggerak paling utama bagi fluktuasi harga emas pada paruh kedua tahun 2026.
Terdapat beberapa panduan penting yang dapat diterapkan sewaktu hendak menginvestasikan dana pada komoditas emas di tengah kondisi pasar yang tidak menentu:
Pertama, manfaatkan momentum penurunan nilai untuk mengoleksi aset. Fase penyusutan nilai pasar bukan menjadi indikator mutlak bahwa masa depan komoditas emas meredup. Pelemahan tersebut dinilai lumrah akibat adanya langkah ambil untung massal.
Oleh karena itu, kemerosotan harga pasar ini justru ideal dimanfaatkan untuk mengoleksi emas secara bertahap, khususnya bagi para pemilik modal yang mengincar target keuntungan finansial untuk jangka panjang.
Kedua, kendalikan diri dan jangan memburu harga saat melonjak. Emas dilaporkan sempat terbang tinggi sekitar US$1.000 per troy ounce dalam kurun waktu satu bulan sebelum akhirnya mengalami penurunan kembali.
Lompatan harga yang terlampau drastis biasanya bakal disusul oleh fase jenuh atau konsolidasi, sehingga para investor sangat diimbau tidak bertransaksi hanya lantaran cemas tertinggal tren.
Ketiga, cermati pergerakan tingkat bunga di Amerika Serikat. Selain isu geopolitik, kiblat kebijakan dari Federal Reserve diramal kuat bakal menjadi pengarah utama nilai emas pada sisa tahun 2026.
Data survei membuktikan terdapat 28 persen pemodal yang memandang tingkat suku bunga sebagai variabel paling krusial, sehingga keputusan strategis bank sentral tersebut wajib dipantau sebelum menyetor modal.
Keempat, posisikan emas murni sebagai instrumen pembagi risiko. Direktur Investasi Fidelity International Tom Stevenson menganggap emas tetap sangat berharga untuk menyeimbangkan portofolio ketika pasar saham dan obligasi jatuh berbarengan.
Senada dengan itu, Head of Investment Sparrows Capital Raymond Backreedy berpendapat bahwa emas mempunyai keterikatan yang minim bahkan berlawanan terhadap pergerakan bursa saham, sehingga efektif menekan potensi kerugian total.
Kelima, batasi jumlah kepemilikan emas selaras dengan tingkat keberanian menghadapi risiko. Kalangan pengamat menyarankan agar investor tidak membenamkan seluruh modal belanja mereka hanya pada satu jenis komoditas ini.
Dalam tata kelola aset majemuk, porsi investasi emas idealnya ditempatkan pada batas 3 persen sampai dengan 10 persen saja, tergantung pada visi keuangan serta batas toleransi risiko masing-masing individu.
Melalui penerapan taktik tersebut, para investor diharapkan bisa meraup keuntungan dari strategi pemecahan risiko portofolio tanpa harus bergantung seutuhnya pada pergeseran grafik harga logam mulia.
Walaupun sempat mengalami kejatuhan sekitar 24 persen dari rekor tertinggi yang pernah dicapai, mayoritas pelaku pasar dalam riset BullionVault tetap meyakini harga emas bakal kembali perkasa hingga penutupan tahun 2026.
Kepercayaan diri pasar ini disokong oleh tingginya angka permintaan yang konsisten datang dari bank sentral dunia, institusi keuangan besar, hingga melonjaknya kebutuhan masyarakat akan aset pelindung kekayaan di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.