JAKARTA - Risiko gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai membayangi kelangsungan lini bisnis perusahaan multifinance. Kemerosotan rapor performa ini tecermin dari realisasi penyaluran pembiayaan mobil baru maupun bekas yang menorehkan penyusutan hingga periode Mei 2026.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sektor pembiayaan kendaraan oleh industri multifinance pada Mei 2026 mengalami penyusutan sebesar 1,44 persen secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp402,49 triliun.
“Sementara itu, pembiayaan mobil baru dan bekas terkontraksi 3,61% YoY menjadi Rp232,74 triliun,” tutur Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban RDK OJK Juni 2026, dikutip pada Minggu (19/7/2026).
Agusman memaparkan bahwa pergeseran dinamika makroekonomi, termasuk imbas dari badai PHK, memiliki andil besar dalam memengaruhi performa sektor pembiayaan transportasi. Oleh karena itu, ia memproyeksikan sektor ini masih akan diselimuti tantangan berat ke depannya.
Walau begitu, dirinya menambahkan bahwa kans untuk mencatatkan pertumbuhan positif sampai penutupan tahun nanti dinilai masih ada sejalan dengan tingginya keperluan warga terhadap fasilitas pembiayaan otomotif.
“Oleh karena itu, perusahaan pembiayaan terus didorong untuk memperkuat kualitas penyaluran dan penerapan prinsip kehati-hatian guna menjaga kinerja industri tetap sehat dan berkelanjutan,” ucap Agusman.
Sebagai informasi, OJK merilis total piutang pembiayaan pada sektor industri multifinance sepanjang lima bulan pertama tahun 2026 sudah menyentuh posisi Rp513,19 triliun. Rapor pencapaian tersebut terpantau menanjak sebesar 1,71 persen secara tahunan.
Agusman mengungkapkan bahwa regulator menaruh rasa optimistis perihal celah ekspansi yang masih terbuka lebar hingga penghujung tahun, terutama karena ditopang oleh ruang gerak penyaluran kredit pada bermacam ceruk industri.
Jika dibedah secara mendalam, per Mei 2026 sektor pembiayaan multiguna terpantau masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi Rp256,77 triliun atau mencatatkan kenaikan sebesar 5,21 persen secara tahunan (YoY).
Sedangkan untuk lini kredit modal kerja sukses terkumpul senilai Rp55,36 triliun atau naik 7,96 persen (YoY). Di sisi lain, ceruk pembiayaan investasi malah merosot 5,79 persen (YoY) ke posisi nominal Rp168,06 triliun.
“Adapun, besaran plafon dan agunan pembiayaan multiguna bervariasi sesuai skema dan objek pembiayaan,” ucap Agusman.