JAKARTA - Pergerakan harga emas diproyeksikan masih berada di bawah tekanan besar pada periode perdagangan pekan depan. Kondisi ini dipicu oleh sikap para pelaku pasar yang tengah menanti perilisan data sentimen konsumen dari Amerika Serikat.
Variabel data makro tersebut dinilai memiliki pengaruh kuat terhadap fluktuasi nilai tukar dolar AS serta proyeksi kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral Federal Reserve (The Fed).
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memaparkan bahwa berdasarkan tinjauan teknikal, tren pergerakan emas masih terjebak dalam fase bearish. Hal ini terjadi setelah komoditas tersebut gagal bertahan di atas area batas resistance.
Selama grafik harga emas belum sanggup melewati batas psikologis tersebut, maka dominasi aksi jual diperkirakan masih akan terus menekan pasar.
"Buyer masih belum mampu mengambil alih kendali pasar. Selama harga belum mampu melakukan penutupan di atas area resistance, tren bearish diperkirakan masih berlanjut," kata Geraldo dalam risetnya, Minggu (19/7/2026).
Mengacu pada hasil analisis dari Dupoin Futures, titik support terdekat saat ini berada pada posisi level 3.942. Jika tekanan jual terus berlanjut hingga menembus batas tersebut, harga emas berpeluang terseret turun menuju rentang 3.782.
Bila ditinjau dari instrumen indikator teknikal, letak Moving Average (MA) 21 terpantau masih konsisten berada di atas garis harga, sehingga memegang peranan sebagai dynamic resistance.
Pada waktu yang sama, indikator dari Stochastic Oscillator menunjukkan pergerakan menuju zona jenuh jual atau oversold. Sinyal ini memperlihatkan bahwa sentimen pasar masih didominasi oleh aksi pelepasan aset.
Selain faktor analisis teknikal, pihak Dupoin Futures menjabarkan bahwa pergeseran nilai emas juga bakal dipengaruhi oleh data Preliminary University of Michigan Consumer Sentiment dan Preliminary University of Michigan Inflation Expectations.
Apabila rapor sentimen konsumen tercatat lebih positif dari perkiraan semula dan proyeksi inflasi tetap bertengger tinggi, maka mata uang dolar AS berpotensi melaju kuat. Hal ini karena memperbesar peluang The Fed menahan suku bunga tinggi yang berujung pada tertekannya harga emas.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaib turut memproyeksikan bahwa laju harga emas masih diselimuti sentimen negatif, khususnya bila angka inflasi di Amerika Serikat kembali merangkak naik akibat eskalasi konflik geopolitik global.
Menurut pandangan Ibrahim, ketegangan bersenjata di wilayah Timur Tengah serta kawasan Eropa Timur memiliki potensi besar memicu lonjakan harga sektor energi, yang pada akhirnya bakal mengerek tingkat inflasi global secara agregat.
Implikasi dari situasi tersebut dapat mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk kembali mengerek naik tingkat suku bunga acuan mereka.
"Jika inflasi kembali meningkat, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas dunia maupun logam mulia," ujar Ibrahim.
Ibrahim memprediksi nilai emas internasional akan bergerak pada rentang kisaran US$3.856 sampai dengan US$4.149 per troy ounce untuk periode sepekan ke depan. Titik support awal berada di level US$3.970 per troy ounce, sedangkan batas resistance pertama di posisi US$4.063 per troy ounce.
Kendati demikian, ia menilai bahwa tingginya volume permintaan fisik emas dari jajaran bank sentral global dapat menjadi benteng penahan agar penurunan nilai tidak merosot terlalu dalam.
Untuk ceruk pasar domestik, koreksi nilai jual logam mulia diramal tidak akan seanjlok pasar internasional. Hal ini disebabkan oleh faktor penopang dari pelemahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS.
Sebagai catatan tambahan, pergerakan harga emas dunia pada periode sebelumnya telah tergelincir kembali hingga ke bawah ambang batas psikologis sebesar US$4.000 per troy ounce.
Pada sesi penutupan bursa hari Kamis (16/7), harga emas di pasar spot tercatat melemah sebesar 1,85 persen menuju level US$3.985,1 per troy ounce, yang sekaligus menjadi rekor posisi terendah dalam jangka waktu 8 bulan ke belakang.
Kemerosotan performa tersebut terjadi seketika setelah pasar merespons tren penguatan mata uang dolar Amerika Serikat serta tebalnya ekspektasi bahwa pihak Federal Reserve masih akan menerapkan kebijakan suku bunga tinggi.
Situasi makro ini otomatis menggerus daya pikat emas selaku aset yang tidak memberikan keuntungan timbal balik langsung (non-yielding asset), sehingga sebagian pemodal memilih memindahkan dana mereka ke instrumen berbasis dolar.
Walaupun sempat membukukan tren reli panjang di sepanjang tahun ini lantaran tingginya tensi geopolitik, pergerakan emas belakangan ini cenderung tertahan oleh kokohnya dolar AS serta kebijakan ketat bank sentral.