JAKARTA - Masalah gigi susu yang berlubang pada anak sering kali dianggap sepele oleh sebagian orangtua karena nantinya akan digantikan oleh gigi permanen.
Padahal, karies atau gigi berlubang yang dibiarkan tanpa penanganan medis dapat berdampak buruk pada kesehatan, aktivitas harian, hingga proses tumbuh kembang anak.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak RS Pondok Indah Puri Indah, drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A, pada Minggu (16/7/2026).
Alana memaparkan bahwa karies merupakan kerusakan enamel gigi akibat proses hilangnya mineral jaringan gigi yang dipicu oleh zat asam dari fermentasi sisa makanan manis.
Kerusakan gigi yang tidak diobati ini bisa memicu rasa sakit berkepanjangan yang membuat anak kehilangan nafsu makan dan kekurangan asupan nutrisi harian.
"Tanpa penanganan yang tepat, gigi anak rentan mengalami karies gigi," ujarnya.
Rasa nyeri tersebut juga membuat anak menjadi lebih rewel, sulit berkonsentrasi saat belajar, tidak bersemangat untuk bermain, hingga mengalami gangguan tidur.
Jika kondisi ini terus dibiarkan hingga gigi tanggal sebelum waktunya, anak akan mengalami kesulitan dalam mengunyah makanan dengan baik.
Karies yang terus berkembang dapat merusak lapisan gigi yang lebih dalam hingga mencapai dentin serta pulpa, sehingga memicu risiko infeksi bakteri yang tinggi.
"Jika tidak ditangani dengan tepat, gigi berlubang akibat karies dapat menjadi jalan masuknya bakteri dan menimbulkan infeksi," jelasnya.
Infeksi bakteri tersebut bahkan dapat menyebar hingga ke area gusi, tulang rahang, serta organ tubuh lainnya apabila tidak segera mendapatkan pengobatan medis.
Selain itu, gigi susu yang tanggal terlalu cepat dapat mengganggu jalur tumbuh gigi permanen sehingga berisiko tumbuh tidak beraturan atau terjebak di dalam gusi.
Orangtua disarankan segera membawa anak ke dokter spesialis apabila muncul bercak putih, gigi kehitaman, linu, bau mulut, atau nyeri saat menggigit.
Penanganan medis oleh dokter akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan, mulai dari pemberian fluoride, penambalan, pemasangan mahkota gigi, hingga tindakan pencabutan.
Untuk pencegahan, anak harus dibiasakan menyikat gigi minimal dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride dan membatasi konsumsi makanan manis.
Orangtua juga perlu membiasakan anak minum air putih setelah makan serta menghentikan kebiasaan tidur sambil minum susu memakai botol dot.
Pemeriksaan rutin ke dokter gigi disarankan tetap dilakukan setiap enam bulan sekali sejak anak memiliki gigi pertama atau saat menginjak usia satu tahun.
"Kontrol rutin ke dokter gigi perlu dilakukan sejak anak memiliki gigi pertamanya atau ketika usianya menginjak satu tahun. Pemeriksaan rutin ini bertujuan untuk memantau kesehatan gigi, mencegah kerusakan, dan memastikan pertumbuhan gigi sesuai dengan usianya," ujar dr. Alana.