JAKARTA - Banyak orang tua yang berupaya keras mendongkrak postur tubuh anak melalui asupan gizi, tetapi kerap luput memperhatikan kebiasaan hidup harian.
Anak-anak masa kini amat rentan terpapar gaya hidup modern yang menghambat pertumbuhan, seperti jadwal tidur tidak teratur, minimnya aktivitas fisik, hingga tingginya asupan gula.
Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi Rumah Sakit Pondok Indah, menjelaskan bahwa kunci utama pertumbuhan fisik anak sangat dipengaruhi oleh kualitas istirahat dan berat badan seimbang.
"Kalau tidur itu (dampaknya) direct terhadap pertumbuhan, karena hormon pertumbuhan itu, dan beberapa hormon tertentu itu, apalagi pada saat pubertas, akan terjadi pada saat deep sleep dan fase rapid eye movement," papar dr. Aman, Rabu (22/7/2026).
Proses pemanjangan tulang serta perbaikan sel tubuh tidak terjadi saat anak sedang aktif bergerak, melainkan saat mereka terlelap.
Kualitas pemulihan fisik ini sangat bergantung pada seberapa nyenyak anak melewati fase rapid eye movement (REM) tanpa gangguan.
"Jadi memang pada saat masa anak ini tidur itu tidak boleh didiskon. Ada aturannya. Umur tertentu segini jam dia tidur," ungkap dr. Aman.
Oleh karena itu, orang tua diimbau tidak menoleransi kebiasaan tidur larut malam pada anak. Kebiasaan mengganti jam tidur malam ke pagi hari juga dianggap tidak efektif karena hormon bekerja mengikuti ritme sirkadian.
Anak-anak di Indonesia seharusnya dibiasakan mematikan lampu dan beristirahat lebih awal untuk memaksimalkan fungsi kelenjar endokrin.
Selain jadwal tidur, kebiasaan malas bergerak (sedentary lifestyle) yang dibarengi konsumsi gula berlebih turut menjadi ancaman serius.
"Nah kalau sedentary lifestyle itu tidak langsung kepada pengaruh hormon pertumbuhan, tapi akan membuat dia obesitas," tutur dr. Aman.
Penumpukan lemak akibat kurang gerak dan kelebihan kalori dapat merusak sistem keseimbangan hormon reproduksi anak.
Kondisi tersebut merusak jadwal biologis anak sehingga mempercepat proses kematangan seksualnya.
"Kalau pada anak perempuan akan memacu pertumbuhannya lebih cepat dan pubertas, dan juga pada anak laki-laki juga bisa dan akan mengganggu reproduksi dan fertilitasnya," papar dr. Aman.
Ketika pubertas datang terlalu dini akibat obesitas, lempeng epifisis pada ujung tulang akan menutup jauh lebih cepat, sehingga anak berisiko memiliki postur tubuh dewasa yang lebih pendek.
"Jadi, obesitas itu pastikan tidak terjadi. Jangan sampai memberikan makan berlebihan, ya walaupun makanan bergizi, akhirnya membuat anak obesitas," pungkas dr. Aman.