JAKARTA - Kemajuan teknologi digital sering kali dipandang sebagai tantangan bagi para orang tua karena penggunaan gawai dikhawatirkan mengganggu fokus dan perkembangan anak.
Kendati demikian, keberadaan gawai dan internet kini telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas belajar di sekolah.
Pengajar Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu, menilai bahwa strategi membatasi screen time anak secara kaku sudah tidak relevan lagi diterapkan.
"Teknologi itu sebetulnya sekarang sudah benar melekat dan menyatu di setiap lapisan kehidupan anak. Sudah tidak bisa dipisahkan dari hubungan keluarga sehari-hari, interaksi rumah-sekolah lewat layar," ujar Charyna kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di kampus UIII, Depok, Selasa (7/7/2026).
Merujuk pada kerangka teori ekologi Bronfenbrenner, perkembangan individu dipengaruhi oleh sistem lingkungan yang saling terhubung dari mikrosistem hingga kronosistem.
Kemajuan teknologi dan internet hadir di tingkat kronosistem yang secara langsung membentuk pola perilaku anak maupun orang tua dalam berinteraksi.
"Dia [teknologi informasi] sudah masuk ke setiap lini, sudah membentuk pola anak itu sendiri, termasuk juga orang tua," ucap Charyna.
Charyna menilai kekhawatiran berlebihan terkait screen time umumnya bersumber dari rasa cemas generasi orang tua yang juga masih dalam tahap beradaptasi dengan era digital.
"Satu hal yang saya catat, ya, kalau paradigma screen time ini lahir dari kecemasan generasi yang sebetulnya juga masih belajar. Masih meraba-raba, ini apa sih," ucap Charyna.
Ia menyarankan agar orang tua tidak ragu untuk belajar memanfaatkan gawai secara bijak dan sehat bersama anak secara bertahap.
"Jadi, kami jangan malu mengakui bahwa kami juga sama-sama belajar, seperti anak kami. Artinya, kami punya ruang atau zona yang perlu kami eksplorasi bareng," ucap Charyna.
Daripada memfokuskan perhatian pada durasi waktu layar, orang tua diimbau memperhatikan aktivitas harian anak yang berpotensi terganggu, seperti pola tidur atau interaksi sosial.
"Screen time ini sudah menggantikan apa? Aktivitas anak yang apa? Misalnya, kalau waktunya tidur tergantikan oleh screen time, itu bermasalah," kata Charyna.
Apabila aktivitas harian, prestasi belajar, dan hobi anak tetap berjalan dengan baik, penggunaan gawai tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebih.
"Jadi, kami melihat dari perubahan perilaku anak saja. Selagi dia masih bisa melakukan aktivitasnya dengan baik, nilai di sekolahnya masih baik, dia masih melakukan hobinya dengan baik, saya pikir itu indikator yang paling sederhana," tuturnya.
Di samping itu, konsep screen quality perlu dikedepankan dengan memilih konten yang edukatif-kreatif serta menciptakan ruang diskusi aktif saat mendampingi anak.
"Itu konten. Kalau konteks, bisa juga screen quality dilihat dari anak ini lebih banyak nonton sendirian atau misalnya ada teman nonton, seperti orang tua," kata Charyna.
Peran orang tua di era digital diharapkan bergeser dari sekadar pengawas menjadi pendamping yang siap berdiskusi dan berkompromi.
"Anak juga harus kami berikan suatu keyakinan bahwa dunia digital itu adalah ruang yang bisa dieksplorasi bareng-bareng. Jadi, bukan suatu wilayah yang anak itu merasa sedang diawasi," kata Charyna.
"Ada hal-hal yang memang harus dikompromikan, sehingga anak tahu posisi dia penting untuk dilihat juga pendapatnya," ucap Charyna lagi.
"Sesuatu yang saya pikir semua anak ketika dia menjadi orang tua nanti, dia akan berkaca bagaimana orang tuanya dulu mengupayakan dia," tutupnya.