JAKARTA — Tubuh manusia secara alami memerlukan lemak untuk menjalankan pelbagai fungsi krusial, mulai dari menyimpan energi cadangan hingga memproteksi organ-organ internal. Oleh karena itu, keberadaan zat lemak sejatinya tidak harus dijauhi secara total.
Kendati demikian, tiap jenis lemak yang ada di dalam tubuh tidak membawa dampak yang serupa. Salah satu klasifikasi yang patut diwaspadai keberadaannya adalah penumpukan lemak visceral.
Lemak Visceral Tak Selalu Terlihat dari Berat Badan
Lemak visceral merupakan endapan lemak yang menyelimuti organ-organ bagian dalam di rongga perut, seperti usus, hati, hingga organ pankreas.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengatakan pada banyak kasus, penumpukan ini pertama kali terlihat dari lingkar pinggang yang membesar.
Tidak sedikit individu yang mencatatkan indeks massa tubuh normal namun menyimpan cadangan lemak visceral berlebih. Kondisi semacam ini kerap dikenal dengan sebutan fenomena obesitas pada berat badan normal.
"Indeks massa tubuh yang normal bisa saja dimiliki oleh orang yang obesitas sentral. Lemak perutnya atau visceral fat-nya itu tinggi. Ini berbahaya karena visceral fat atau obesitas sentral itu secara langsung merupakan faktor risiko sebenarnya untuk mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah."
Keterangan tersebut dipaparkan dr. Susetyo dalam sesi edukasi media yang diselenggarakan PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama PERKI di Revenue Tower, Jakarta Selatan pada Kamis (23/07).
Ia menguraikan, bagi populasi di kawasan Asia, ukuran lingkar pinggang di atas 90 cm bagi pria serta melebihi 80 cm bagi wanita sudah tergolong sebagai kriteria obesitas sentral.
"Tidak gemuk, tidak obesitas, tetapi lingkar perutnya melebihi batas itu sebenarnya obesitas sentral. Memang bukan secara antropometri, keseluruhan obesitas, tetapi dia mengalami kelebihan lemak di dalam organ visceral di dalam perut. Itu juga merupakan faktor risiko kardiovaskular," tutur dr. Susetyo.
Keterkaitan Lemak Visceral dan Risiko Kardiovaskular
Menurut pemaparan dr. Susetyo, faktor penentu yang membuat penumpukan lemak visceral sangat riskan adalah sifat biologisnya. Jenis lemak ini memiliki tingkat peradangan yang lebih pekat dibandingkan lemak di bawah lapisan kulit.
"Memang sudah ada penelitiannya secara langsung akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena dia inflamasinya lebih tinggi. Inflamasi itu apa? Peradangan." ungkap dr. Susetyo.
Proses peradangan tersebut membuat plak timbunan lemak pada dinding pembuluh darah menjadi rawan pecah. Saat plak tersebut pecah, kandungannya akan berinteraksi dengan elemen pembekuan darah sehingga dapat membentuk sumbatan penyabab serangan jantung maupun stroke.
Walau demikian, dr. Susetyo menegaskan bahwa kadar lemak visceral bukanlah satu-satunya variabel yang perlu diwaspadai. Tingkat kolesterol jahat atau LDL di dalam sirkulasi darah tetap menjadi pemicu utama terbentuknya plak pembendung aliran darah.
Metode Mengurangi Deposit Lemak Visceral
Berdasarkan rujukan Harvard Health Publishing, formulasi paling manjur untuk mengikis kadar lemak visceral adalah memadukan pola konsumsi sehat dengan aktivitas olahraga teratur, utamanya latihan beban guna menguatkan massa otot.
Latihan beban mampu mendongkrak kemampuan metabolisme tubuh dalam membakar lemak, sementara olahraga jenis aerobik seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, atau lari membantu mengolah cadangan lemak visceral.
Kombinasi aktivitas fisik tersebut akan membuahkan hasil makin optimal jika disertai asupan pangan tinggi serat, kecukupan protein berkualitas, serta pembatasan asupan kalori harian yang berlebih.