Rupiah Diramal Melemah Akibat Tensi Geopolitik Timur Tengah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:55:31 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah Seiring Tensi Geopolitik yang Memanas [FOTO: NET].

JAKARTA - Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan bahwa mata uang rupiah bakal cenderung mengalami pelemahan nilainya terhadap dolar AS pada sesi perdagangan hari Kamis ini, seiring dengan memanasnya eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucapnya, Kamis.

Kendati demikian, imbuh Lukman, potensi pelemahan tersebut diperkirakan tidak akan terlalu dalam seiring mulai bangkitnya sentimen positif di ranah domestik belakangan ini.

“Dari RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang di antaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, diharapkan bisa mendukung rupiah,” ungkap dia.

Sementara itu, pergerakan nilai tukar rupiah pada pembukaan sesi perdagangan hari Kamis pagi terpdatap menguat tipis sebanyak 3 poin atau setara 0,02 persen ke level Rp17.914 per dolar AS apabila dikomparasikan dengan posisi penutupan sebelumnya yang bertengger di angka Rp17.917 per dolar AS.

Pihak Bank Indonesia (BI) sendiri mengambil opsi kebijakan untuk mengalirkan insentif bagi para investor melalui instrumen kenaikan serta perluasan insentif pemotongan premi guna menstimulasi masuknya arus investasi portofolio asing, ketimbang harus menempuh langkah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) pada bulan Juli 2026 ini.

Bentuk insentif tersebut meliputi penambahan besaran insentif swap jual lindung nilai (swap beli lindung nilai kepada BI) dari level 10 persen terdahulu menjadi sebesar 12,5 persen, serta pelebaran cakupan insentif DNDF (domestic non-deliverable forward) jual lindung nilai di angka 15 persen.

Maka dari itu, Lukman memandang bahwa keputusan yang diambil BI untuk menahan suku bunga acuan merupakan langkah yang rasional untuk dipahami, mengingat tekanan dari faktor internal berangsur mereda meskipun kondisi sentimen eksternal tengah mengalami perburukan.

“Apabila perkembangan di Timteng tidak membaik, BI mungkin akan baru menaikkan kembali dalam pertemuan berikutnya,” katanya.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari kantor berita Sputnik, pemerintah Amerika Serikat terpantau telah kembali menempatkan armada pesawat tempur siluman F-35 generasi kelima serta pesawat tempur F-16 dari daratan Eropa menuju kawasan Timur Tengah.

Dalam kurun waktu sepekan terakhir, Washington pun dikabarkan telah mengerahkan pasukan khusus operasi militer beserta tambahan satu skuadron pesawat tempur ke wilayah tersebut. Di sisi lain, armada pesawat pengebom strategis B-1 yang bermarkas di Inggris dilaporkan telah disiagakan dalam status siap tempur guna mengantisipasi kemungkinan pecahnya operasi militer berskala masif.

Terkini