Program MBG Kembali Berjalan Mendorong Kenaikan Harga Ayam dan Telur

Program MBG Kembali Berjalan Mendorong Kenaikan Harga Ayam dan Telur
Ilustrasi Telur Ayam.

JAKARTA - Nilai jual ayam hidup serta telur ayam ras pada level peternak perlahan mulai bangkit setelah sebelumnya sempat merosot akibat lesunya angka pembelian selama liburan sekolah dan masa bulan Suro.

Sejumlah pelaku usaha menilai bahwa bergulirnya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pemicu utama yang mengerek naik tingkat permintaan komoditas unggas.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya Parjuni memaparkan bahwa kejatuhan harga dalam beberapa pekan ke belakang disebabkan oleh perpaduan antara penurunan tingkat konsumsi warga selama bulan Suro di tanah Jawa serta berhentinya operasional sementara program MBG saat libur sekolah.

"Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand dari masyarakat itu turun," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (19/7/2026).

Menurut penjelasan Parjuni, situasi pasar kini berangsur membaik sesudah agenda belajar di sekolah kembali bergulir dan dapur-dapur produksi MBG beroperasi lagi.

Harga telur pada tingkat peternak yang tadinya sempat jeblok ke angka Rp17.000-Rp18.000 per kilogram kini terkerek naik menuju kisaran Rp20.000-Rp21.000 per kilogram, sekalipun posisinya masih berada di bawah ketentuan Harga Acuan Pembelian (HAP).

"Kemarin itu harganya Rp17.000 sampai Rp18.000. Sampai dengan hari ini di kisaran Rp20.000 sampai Rp21.000. Jadi memang ada growth naik. Dulu itu kan ada program stunting. Barangkali nanti bisa dibikin pola yang sama," katanya.

Parjuni menaruh harapan besar agar pihak pemerintah sudi kembali menyalurkan program bantuan pangan yang berupa komoditas telur dan daging ayam layaknya program penuntasan stunting pada periode 2023 dan 2024 silam.

Kala itu, Badan Pangan Nasional menginstruksikan ID FOOD untuk mendistribusikan logistik bantuan kepada sekitar 1,4 juta keluarga berupa paket satu kilogram daging ayam serta 10 butir telur rutin tiap bulan sepanjang tiga bulan berturut-turut dengan merangkul ribuan peternak berskala rakyat.

Di sisi lain, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyampaikan bahwa agenda pengerjaan ulang paket bantuan pangan telur serta daging ayam ini masih harus menunggu hasil ketetapan rapat koordinasi terbatas dari internal pemerintah.

"Bantuan pangan telur dan daging ayam, belum ada keputusan Rakortas. Tentu nanti kita masih perlu menunggu. Jika dimungkinkan diputuskan, tentu kita lakukan," ujarnya.

Kendati demikian, Ketut memvalidasi bahwa grafik harga ayam maupun telur di level peternak sudah mulai bergerak naik searah dengan pulihnya angka permintaan dari sektor program MBG serta selesainya masa bulan Suro.

"Jadi MBG itu ada pengaruhnya, dengan melewati bulan Suro sekaligus mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik. Tolong biarkan dulu peternak kami menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kami tetapkan," katanya.

Berdasarkan catatan dari Bapanas, rata-rata nominal ayam broiler hidup pada level peternak per tanggal 16 Juli 2026 menyentuh angka Rp22.032 per kilogram atau melesat sebesar 5,53 persen dari posisi sepekan sebelumnya yang berada di angka Rp20.878 per kilogram.

Nilai paling rendah terdata di wilayah Sumatra Selatan dengan nominal Rp19.500 per kilogram, sementara untuk nilai paling tinggi didapati di daerah Riau yang menembus Rp26.000 per kilogram.

Sementara itu, untuk nilai jual telur ayam ras pada level peternak merangkak naik sebesar 2,2 persen ke angka rata-rata Rp22.989 per kilogram dari posisi sebelumnya yang bernilai Rp22.495 per kilogram.

Pada kawasan Sulawesi Utara, nilai jual telur bahkan terpantau sudah melewati batas ketentuan HAP lantaran menyentuh Rp27.067 per kilogram, sedangkan untuk kawasan Banten posisinya terpantau masih bertahan di kisaran Rp21.250 per kilogram.

Pada level pembeli akhir, nilai jual daging ayam ras maupun telur ayam ras tercatat masih bertengger di bawah acuan resmi pemerintah sehingga peluang pemulihan nilai jual pada tingkatan peternak dipandang masih terbuka lebar.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyebutkan bahwa aktifnya kembali unit dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjelma sebagai stimulan krusial yang mendongkrak daya serap komoditas hasil peternak.

"Untuk ayam di tingkat peternak harganya alhamdulillah per hari ini sudah Rp22.000 dan sesuai dengan target kami. Kemudian kalau telur tadi masih sekitar Rp22.000 juga. Memang karena dengan kembalinya beroperasi dapur-dapur SPPG, ini salah satu yang tentu akan memicu peningkatan serapan," ujarnya.

Menurut pandangan Agung, konsistensi jalannya program MBG ini sanggup memberikan kepastian ekosistem pasar bagi para peternak karena tiap unit dapur SPPG dipastikan memerlukan suplai telur dalam volume masif secara berkala.

"Kalau kami justru para petani, para peternak sangat terbantu dengan adanya program MBG ini, karena ada harapan MBG ini. Dan ingat satu dapur itu membutuhkan 1,86 ton per bulan untuk telur. Ini tentu mendorong ekonomi rakyat," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index