JAKARTA - Rencana agenda restrukturisasi bagi emiten konstruksi pelat merah, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), guna bertransformasi menjadi korporasi pemain jalan tol didukung penuh oleh pilar kekuatan aset yang kokoh.
Berdasarkan laporan posisi keuangan per 30 Juni 2026, perseroan terpantau mengendalikan portofolio infrastruktur jalan bebas hambatan lewat kepemilikan 7 entitas anak usaha, baik dengan skema kepemilikan langsung maupun tidak langsung.
Pada jalur kepemilikan langsung, WSKT menguasai penuh PT Waskita Toll Road (WTR) dengan porsi saham 92,53 persen. Per akhir Juni 2026, WTR mencatat total aset senilai Rp49,09 triliun serta perolehan laba bersih Rp48,81 miliar.
Lewat WTR, perusahaan melebarkan sayap bisnisnya melalui kepemilikan tidak langsung pada 6 perusahaan pengelola ruas tol spesifik yang tersebar di wilayah Jawa, Sumatra, hingga area Kalimantan.
Di koridor Jawa, portofolio entitas mencakup PT Pemalang Batang Toll Road dengan porsi kepemilikan saham 60,00 persen, serta kepemilikan 88,08 persen saham pada PT Waskita Transjawa Toll Road.
Perseroan juga menggenggam 99,99 persen saham PT Transjawa Paspro Jalan Tol, ditambah kepemilikan 99,95 persen saham pada PT Waskita Bumi Wira yang berlokasi di daerah Gresik.
Untuk wilayah Sumatra, WSKT bertumpu pada PT Waskita Sriwijaya Tol di Palembang dengan porsi 99,82 persen. Sementara di Kalimantan, perseroan mengamankan 60,00 persen saham PT Tol Teluk Balikpapan.
Paling baru, WSKT berhasil menyabet kontrak baru untuk pengerjaan proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta sampai Bawen Seksi 3 dengan nilai pengerjaan menembus angka Rp2,1 triliun.
Melalui Kerja Sama Operasi (KSO) bersama PP dan WIKA, perseroan bakal menggarap konstruksi jalan sepanjang 8,1 kilometer yang berlokasi di wilayah Magelang, Jawa Tengah.
Direktur Operasi I Waskita Karya Ari Asmoko menjabarkan kontrak baru itu mencakup jasa layanan konstruksi Simpang Susun (SS) Magelang hingga SS Borobudur, termasuk trase utama dan akses.
“Proyek ini sangat penting untuk mempercepat mobilitas sekaligus mendorong peningkatan sektor pariwisata,” ujar Ari dalam siaran pers, Selasa (23/6/2026).
Kepemilikan aset tol ini menjadi basis operasional utama setelah Danantara dan BP BUMN mengarahkan restrukturisasi bisnis WSKT menuju sektor infrastruktur jalan bebas hambatan.
Arah transformasi dibahas dalam agenda pertemuan antara Dony Oskaria selaku Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia dengan jajaran direksi Waskita, Jumat (17/7/2026).
Pertemuan tersebut mengevaluasi nilai valuasi aset, kapasitas pembayaran utang, proyeksi arus kas, hingga perubahan model bisnis dari emiten BUMN Karya tersebut secara menyeluruh.
Dony menegaskan proses penyehatan WSKT wajib menggeser fokus bisnis secara permanen ke sektor dengan arus kas stabil. Perhitungan bisnis juga harus realistis demi memulihkan kepercayaan pasar.
“Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar,” ujar Dony dalam siaran pers dikutip Sabtu (18/7/2026).
Namun, sebelum ekspansi berjalan, kondisi keuangan Waskita harus dipastikan sehat sehingga perseroan memiliki kemampuan memenuhi kewajibannya secara mandiri serta memperkuat kepercayaan pasar.
Langkah penguatan ini berjalan seiringan dengan perbaikan kinerja keuangan. Hingga semester I/2026, total pendapatan usaha WSKT melonjak 58,49 persen secara tahunan menjadi Rp4,91 triliun.
Namun, pertumbuhan pendapatan diikuti lonjakan beban pokok sebesar 80,78 persen secara tahunan menjadi Rp4,41 triliun, sehingga laba bruto terkoreksi 23,76 persen ke posisi Rp504,20 miIiar.
Setelah memperhitungkan seluruh pos, Waskita mampu melakukan efisiensi sehingga rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan menyusut 16,96 persen menjadi Rp1,91 triliun.