JAKARTA — Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahaya dari konsumsi makanan ultra-proses terhadap penurunan kemampuan perhatian seseorang.
Penelitian di Australia tersebut menunjukkan bahwa makin tinggi asupan makanan ultra-proses, makin tinggi pula risiko gangguan kesehatan otak.
Riset yang melibatkan 2.000 peserta berusia 40 hingga 70 tahun ini mengukur tingkat konsumsi harian serta performa kognitif peserta.
Hasilnya mencatatkan bahwa responden yang mengonsumsi makanan ultra-proses dalam porsi paling tinggi meraih skor perhatian terendah.
“Untuk memberikan gambaran mengenai temuan kami, peningkatan 10 persen konsumsi makanan ultra-proses kira-kira setara dengan menambahkan satu bungkus keripik ukuran standar ke dalam pola makan harian,” kata peneliti utama Barbara Cardoso, PhD, seperti dikutip Everyday Health, Sabtu (18/7/2026).
Konsumsi produk olahan industri ini juga terbukti berkorelasi dengan faktor pemicu demensia seperti obesitas dan hipertensi.
Para ahli menduga pengaruh buruk tersebut dapat dipicu oleh terganggunya ekosistem mikrobioma pada saluran pencernaan manusia.
“Penelitian ini menambah bukti yang terus berkembang bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko gangguan kognitif dan demensia yang lebih tinggi,” ujar neurolog W. Taylor Kimberly, MD, PhD.
Kendati demikian, para akademisi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan nutrisi harian daripada cuma menghindari jenis makanan tertentu.
“Daripada berfokus pada tingkat pemrosesan, saya menyarankan pasien untuk mengikuti pola makan sehat berdasarkan pedoman diet,” katanya.